05 December 2013

Enough is enough

Terkadang kita membeli lebih dari yang kita perlukan. Mungkin saat ini kita sudah memiliki blackberry, namun ketika kita melihat teman kita memakai tablet keluaran terbaru, kita tergoda untuk memilikinya. Padahal tablet itu belum tentu perangkat yang benar-benar kita butuhkan.Atau kita selalu merasa tidak puas dengan keadaan kita. Ketika sudah memiliki gaji dengan jumlah yang sudah mencukupi kebutuhan kita malahan berlebih untuk menabung. Namun, karena rasa tidak puas kita mencari pekerjaan yang menawarkan gaji yang lebih tinggi.Setiap manusia pasti memiliki rasa tidak puas itu, selalu ingin mendapatkan yang lebih. Sehingga rasa tidak puas itu membuat kita tidak dapat bersyukur dengan apa yang kita miliki dan berfokus pada apa yang belum kita miliki.

Di Filipi 4 : 11, paulus mencatat : "Saya mengemukakan ini bukan karena saya berkekurangan, sebab saya sudah belajar merasa puas dengan apa yang ada." (Alkitab Bahasa Indonesia sehari-hari). Paulus sudah dapat mengendalikan dirinya dan merasa puas dengan apa yang dia miliki. Dia sudah belajar mencukupkan diri dengan apa yang dia miliki.

Kita harus belajar untuk mengendalikan diri kita dan mencukupkan dengan apa yang ada. Karena manusia adalah makhluk yang tidak pernah puas sehingga selalu menginginkan lebih dan lebih lagi. Bukan berarti kita tidak boleh menginginkan lebih, namun kalau kita terus membiarkannya maka kita akan dikuasai oleh nafsu kita.Bukankah alkitab pernah berkata kalau kita yang harus mengendalikan nafsu kita, bukan sebaliknya.

17 October 2013

Wonder of Worship

Hari Senin (14 Oktober) dan Selasa (15 Oktober) di komunitas tempat saya bertumbuh, Wave Youth Ministry GKI Anugerah mengadakan P-Camp (Prompter Camp). Prompter yang dimaksud adalah juru bisik. Kalau kalian pernah main teater, kalian pasti tau di belakang panggung akan selalu ada prompter yang membisiki pemeran yang sedang bermain di panggung, apabila pemeran itu melupakan  adegan yang harus dilakukannya atau kata-kata yang harus diucapkannya. P-Com ini adalah kegiatan rutin setiap bulan dari P-Camp yang dilakukan oleh teman-teman yang melayani di bidang Ibadah (Seperti WL, Singer, Pemain Musik, Soundman, Multimedia, Lighting). Setiap mereka yang melayani di bidang ibadah adalah prompter-prompter, maksudnya adalah mereka yang membantu membawa setiap jemaat masuk ke dalam hadirat Tuhan, untuk memuji dan menyembah Tuhan. Di P-Com ini mereka bersekutu dan bertumbuh di dalam pengenalan akan Firman Tuhan.
Pada bulan ini diadakanlah P-Camp. P-Camp ini tidak hanya dikhususkan untuk para pelayan ibadah saja, tetapi juga untuk semua jemaat yang rindu untuk mengalami penyembahan sejati. P-Camp kali ini mengambil tema “Wonder of Worship” dan dilayani oleh Pdt. Samuel Pristiwantoro. Berikut adalah berkat yang saya dapatkan melalui acara P-Camp ini, semoga juga dapat menjadi berkat bagi kita semua.
Dalam beribadah pasti kita mengenal istilah “Praise & Worship”. Saya sering mendengar kalau Praise itu berarti kita menyanyikan lagu cepat dan bersorak-sorak. Sedangkan Worship itu berarti kita menyanyi lagu yang tenang. Namun benarkah demikian arti dari Praise & Worship itu ? Apakah itu arti dari penyembahan kepada Tuhan ?
Waktu kita beribadah, kita memuji Tuhan itu berarti kita mengekspresikan ucapan syukur dan pengagungan kita kepada Tuhan atas apa yang sudah Ia lakukan dalam hidup kita. Ketika kita mencintai seseorang, kita pasti akan mengekspresikan perasaan kita bukan. Mungkin kita akan memuji dia dengan wajah yang tersenyum sangat manis (ga mungkin dong memuji orang yang kita cinta dengan cemberut dan loyo). Begitu juga ketika kita memuji Tuhan, kita harus mengekspresikannya. Mengekspresikan kebaikan Tuhan yang sudah Ia perbuat di dalam hidup kita.
Sedangkan penyembahan  adalah tentang keintiman kita dengan Tuhan. Itu berarti kita hormat dan tunduk sama Tuhan. Bukan hanya hormat pada saat ibadah saja, tapi dalam keseharian kita. Waktu kita menyembah Tuhan itu berarti kita menyerahkan totalitas hidup kita kepada Tuhan. Menjaga hidup kita tetap kudus di hadapan Tuhan, ga bohong lagi, ga nyontek lagi. Penyembahan itu berbicara tentang siapa Tuhan tanpa melihat apa yang sudah atau belum Tuhan perbuat.
Pujian dan penyembahan tidak dapat dipisahkan. Mereka sama seperti dua sisi mata uang yang saling melekat. Munafik kalau orang yang sampai menangis-nangis saat ibadah tapi kehidupan sehari-harinya tidak mencerminkan penyembahan kepada Tuhan (hidup tunduk dalam otoritas Tuhan, taat kepada Firman Tuhan). Dan tidak mungkin juga kalau kita sudah mengalami penyembahan kepada Tuhan, kita tidak dapat mengekspresikannya ketika kita beribadah.
Ketika kita menyembah Tuhan dalam hidup kita, kita masih bisa berbuat dosa. Namun, kita tidak mau lagi berbuat dosa, karena kita tau itu akan menyakiti hati Tuhan. Dan kita ga mau menyakiti hati Tuhan, kenapa ? Karena kita mencintaiNya.


Penyembahan yang sejati itu berarti kita memberikan hidup kita seutuhnya untuk Tuhan.

13 September 2013

Bagaimana dengan mereka...

Kemarin saat saya sedang dalam perjalanan menuju sekolah tempat saya bekerja, saya melihat pemandangan yang membuat saya ingin menangis. Saya melihat seorang anak kecil sedang berjalan tanpa mengenakan alas kaki. Saya langsung berpikir bagaimana kalau kakinya kena duri, batu atau pecahan kaca yang ada di jalan. Orang yang normal pasti akan memakai sandal bahkan orang gila sekalipun kalau dipakaikan sandal pasti akan dia pakai (tapi ada orang gila juga yang ga mau pakai). Saya membayangkan betapa sulitnya hidup anak itu. Bahkan untuk sepasang sandal dia (dan orang tuanya) tidak sanggup untuk membelinya. Belum lagi sepanjang hari itu dia harus berjalan menyusuri jalanan yang panas oleh sinar matahari untuk mencari uang untuk sesuap nasi yang mungkin tidak didapatnya hari-hari kemarin.
  Kadang saya merasa ironis dengan hidup ini. Ada orang yang berlimpah harta. Dia sanggup membeli apapun yang dia mau. Dia sanggup membeli sandal dan sepatu sampai berjuta-juta harganya dan berpuluh-puluh banyaknya. Tetapi ingatkah mereka ada orang-orang yang untuk membeli sepasang sandal jepitpun tidak sanggup. Kadang saya melihat ada murid yang kalau disuruh makan susahnya minta ampun. Dikasih sayur saat makan siang, makannya lama sekali atau dia menangis karena harus menghabiskan makan siangnya. Padahal makan siangnya itu bukan racun dan baik bagi tubuh mereka. Tapi tidakkah anak-anak itu sadari kalau mereka jauh lebih beruntung dari anak-anak yang ada di luar sana. Kadang saya juga menemukan ada anak-anak yang malas untuk belajar dan sekolah. Tidak tahukah mereka di luar sana ada anak-anak yang tidak bisa sekolah, bahkan untuk membeli makananpun mereka kesulitan.
   Dan itu membuat saya belajar untuk menghargai apa yang Tuhan beri pada saya. Tidak menyia-nyiakan setiap makanan yang diberikan kepada saya (yang saya tau makanan itu baik bagi tubuh saya). Tidak menghambur-hamburkan uang untuk hal yang tidak saya butuhkan. Saya juga sering berpikir apa yang bisa saya buat bagi mereka ? Saya tidak punya banyak uang sehingga saya dapat memberikannya kepada mereka. Saya juga tidak punya perusahaan sehingga saya bisa membuka lapangan pekerjaan bagi orang tua mereka. Namun saya kembali diingatkan, saya dapat berdoa bagi mereka dan melakukan hal-hal kecil bagi mereka. Mungkin itu memberikan senyum hangat saya kepada mereka, memberikan sedikit makanan yang saya miliki.